Suasana salah Satu Rumah Sakit di Bandung. Terduduk depan ruang ICU menanti jam besuk. Sore jam 16.00 WIB pintu terbuka. Kumasuki ruangan, kulihat tiap sekat kamar perempuan dan laki-laki terbaring tidak sadar dengan berbagai alat memasuki tubuhnya. Tanda kehidupannya terlihat di sebuah mesin dengan angka yang berubah-rubah. ‘koma’ istilah yang biasa diberikan untuk mereka. Di samping nya keluarga yang tetap berusaha mengajak berbicara. Salah satu cara untuk pengembalian tingkat kesadaran.
Hidup manusia diperpanjang dengan berbagai alat-alat canggih kedokteran. Anak-anak keluarga berusaha semampunya untuk memberikan usaha yang maximal untuk menyembuhkan mereka yang dicintai. Ruang ICU adalah bentuk nyata usaha menyembuhkan mereka yang diambang kematian.
Tapi sudah sangat jelas kematian tidak akan pernah bisa di majukan dan di mundurkan sedetik pun walau dunia telah sangat canggih dengan teknologinya. Tapi tak akan pernah bisa menembus ruang waktu Tuhan.
Timbul suatu pertanyaan,,apa yang mendasari mereka yang memperjuangkan hidup nya?apa untuk mengindari maut?karena takutnya akan kematian.atau untuk menghindari kematian?karena belum siap untuk mengalaminya.atau untuk merubah kondisi kematian?
Waktu kematian adalah taqdir, hanya jalan menuju ke arah sana yang bisa manusia persiapkan.
Kembali ke ruang ICU,,ibu dari ibu ku terbaring disana. Harapan tipis tapi bisa dipastikan hidupnya belum berakhir. Berkali-kali terjadi rundingan dari anak-anak nya untuk membawa pulang atau tetap berusaha di ICU ini. Ucapan dokter saat itu “ tinggal memilih mau meninggal di rumah sakit, atau di rumah, tapi rumah sakit tidak bertanggung jawab apabila ketika dibawa pulang terjadi apa-apa”
Perkataan si dokter membuat bingung keluarga. Tapi tetap Allah yang menggerakan hati setiap manusia untuk menuju jalan Taqdir Nya. Akhir nya nenek kami tercinta dibawa pulang, perjalanan pulang bukanlah jarak yang dekat, Bandung dan desa tempat tinggal membutuhkan waktu tempuh 4 jam. Sampai saat itu tanpa alat-alat canggih di ruang ICU, nenek tetap bertahan sampai ke rumah nya bahkan hingga semua kerabat di desa tempat tinggal berdatangan untuk mendoakan kesembuhan nya. Kondisi nya saat itu tetap tidak sadar tapi terpastikan bahwa nenek masih berada di tengah-tengah kami.
Hari itu tanggal 3 Januari 2011, tepatnya jam 11 siang adalah waktu yang telah ditetapkan oleh Sang Khaliq bagi nenek untuk kembali pada Nya,,tapi saat itu nenek telah berada di rumah tercinta nya, kerabat-kerabat di desa nya telah bertemu dan melihat nya untuk yang terakhir kali, seluruh anak cucu nya berada di sekeliling dia, dan tanpa alat-alat dan selang-selang yang masuk ke dalam tubuhnya.
Allah telah menentukan waktu kematian sebagai taqdir Mubram atau ketentuan Allah yang tidak bisa diubah lagi, tapi kondisi kematian qta merupakan taqdir mualaq ketentuan Allah swt terhadap makhluk-makhluk nya yang masih bisa diubah dan diusahakan dengan sungguh-sungguh. Dan kondisi kematian qta tergantung dengan bagaimana qta mengisi amanat kehidupan ini.
Hidup itu anugerah, mari isi dengan kebaikan, kematian itu kerinduan, maka perindahlah cara memasuki nya dengan meraih kesudahan yang baik (Khusnul Khatimah), insyaAllah amiin.....
* Grandma' may Allah give the best place for you
* Grandma' may Allah give the best place for you


Tidak ada komentar:
Posting Komentar